Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Sikap Manusia

Pengaruh sosial sering membentuk sikap kita jauh sebelum kita pernah berjumpa dengan objek sikap tersebut (Calhoun, J, F., & Acocella, J, R., 1990:317). Pengaruh sosial yang dimaksud menurut Azwar (1995:30) adalah faktor-faktor yang akan membentuk sikap manusia, yaitu pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan agama, serta faktor emosi dalam diri individu.

1. Pengalaman Pribadi

Penelitian yang dilakukan oleh Fabrigar, et al (dalam Ramdhani, 2009) menyatakan bahwa jumlah informasi atau luasnya knowledge yang dimiliki individu sebelumnya mengenai objek sikap menentukan kekuatan perubahan sikap yang dialami individu. Oskamp (dalam Ramdhani, 2009) mengungkapkan dua aspek yang secara khusus memberi sumbangan dalam membentuk sikap; pertama adalah peristiwa yang memberikan kesan kuat pada individu (salient incident), yaitu peristiwa traumatik yang merubah secara drastis kehidupan individu, misalnya kehilangan anggota tubuh karena kecelakaan. Kedua yaitu munculnya objek secara berulang-ulang (repeated exposure).

2. Pengaruh Orang Lain yang Dianggap Penting

Menurut Ali (2000:36), seseorang tumbuh dan berkembang sesuai dengan rangkaian interaksi antar perorangan dalam kehidupannya di dalam keluarga, dengan teman sebaya, teman akrab atau pernikahan, melalui contoh-contoh yang bersifat formal dan informal yang berlangsung relatif cukup lama. Interaksi antar perorangan ataupun kelompok akan berpengaruh besar terhadap komponen kognitif, afektif, dan konatif seseorang. Begitu juga dengan sikap. Pada umumnya, individu cenderung untuk memilih sikap yang konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggapnya penting (Azwar, 1995:32).

Sikap dapat dipelajari melalui imitasi. Orang meniru orang lain, terutama jika orang lain itu merupakan orang yang kuat dan penting (Sears, D, O,. Freedman, J, L., & Peplau, L, A., 1985:143). Salah satu sumber penting yang jelas-jelas membentuk sikap kita adalah kita mengadopsi sikap tersebut dari orang lain melalui proses pembelajaran sosial (social learning). Pembelajaran sosial merupakan suatu proses dimana kita mengadopsi informasi baru, tingkah laku atau sikap dari orang lain (Baron, R, A., & Byrne., 2004:123). Dengan kata lain, banyak pandangan kita dibentuk saat kita berinteraksi dengan orang lain atau hanya dengan mengobservasi tingkah laku mereka (Baron, R, A,. & Byrne., 2004:123).

Baca juga:

Sikap dapat terbentuk bahkan ketika orang tua tidak bermaksud untuk mewariskan pandangan tertentu pada anak mereka. Proses ini disebut pembelajaran melalui observasi (observational learning) yang terjadi ketika individu mempelajari bentuk tingkah laku atau pemikiran baru hanya dengan mengobservasi tingkah laku orang lain (Baron, R, A,. & Byrne., 2004:125).

Sikap anak cenderung cocok dengan sikap orang tua mereka (Calhoun, J, F., & Acocella, J, R, 1990:317). Senada dengan Calhoun, Ali (2000:39) mengatakan bahwa sikap dan perilaku anak relatif lebih dominan diwarnai oleh sikap dan perilaku orangtuanya. Sikap orang tua akan dijadikan role model bagi anak-anaknya (Ramdhani, 2009). Peran orang tua sebagai orang yang paling dekat dengan anak-anaknya terutama yang berkenaan dengan sikap, perhatian, dorongan, dan reaksi dalam mendidik dan membesarkan anaknya dapat membentuk dan mempengaruhi sikap dan perilaku anak-anaknya (Ali, 2000:39). Dari orangtualah anak atau para remaja belajar tentang nilai dan norma-norma yang dapat membentuk dan menentukan sikap dan perilaku anaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Anak-anak cenderung mewarisi sikap orang tua mereka, tetapi anak remaja dan menjelang dewasa lebih dipengaruhi teman sebaya mereka (Calhoun, J, F., & Acocella, J, R, 1990:319). Dalam masa remaja, kelompok teman sebaya cenderung mengganti keluarga sebagai kelompok acuan individu?yaitu, kelompok yang normanya kita jadikan alat untuk menilai diri sendiri (Calhoun, J, F., & Acocella, J, R, 1990:319). Bahkan Ramdhani (2009) mengungkapkan bahwa ada kecenderungan bahwa seorang individu berusaha untuk sama dengan teman sekelompoknya.

Dapat disimpulkan bahwa orang tua dan teman sebaya berpengaruh besar dalam membentuk dan merubah sikap seseorang.

3. Pengaruh Kebudayaan

Pembentukan sikap tergantung pada kebudayaan tempat individu tersebut dibesarkan. Seperti yang diungkapkan Azwar (1995:33) kebudayaan tempat kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap. Contoh pada sikap orang kota dan orang desa terhadap kebebasan dalam pergaulan. Contoh lain apabila kita hidup dalam budaya sosial yang sangat mengutamakan kehidupan berkelompok, maka sangat mungkin mempunyai sikap negatif terhadap kehidupan individualisme yang mengutamakan kepentingan pribadi.

4. Media Massa

Menurut Azwar (1995:34) berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh dalam pembentukan opini dan kepercayaan seseorang. Adanya informasi mengenai sesuatu hal yang dimuat oleh media memberikan landasan bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Rahayuningsih (2008) mengatakan bahwa pesan sugestif yang dibawa oleh media, apabila cukup kuat akan memberikan dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu. Televisi khususnya dianggap memiliki pengaruh sangat besar terhadap sikap (Calhoun, J, F., & Acocella, J, R., 1990:319). Berbagai riset menunjukkan bahwa foto model yang tampil di media masa membangun sikap masyarakat bahwa tubuh langsing tinggi adalah yang terbaik bagi seorang wanita (Ramdhani, 2009).

5. Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama

Institusi berfungsi meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman baik dan buruk, salah atau benar, yang menentukan sistem kepercayaan seseorang hingga ikut berperan dalam menentukan sikap seseorang (Rahayuningsih, 2008). Menurut Azwar (1995:35) apabila terdapat sesuatu hal yang bersifat kontroversial, pada umumnya orang akan mencari informasi lain untuk memperkuat posisi sikapnya atau mungkin juga orang tersebut tidak mengambil sikap memihak. Dalam keadaan seperti itu, ajaran moral yang diperoleh dari lembaga pendidikan atau dari agama seringkali menjadi faktor yang menentukan sikap.

6. Pengaruh Faktor Emosional

Suatu sikap yang dilandasi oleh emosi yang fungsinya sebagai semacam penyaluran frustrasi atau pengalihan bentuk mekanisime pertahanan ego, dapat bersifat sementara ataupun menetap (persisten/tahan lama) (Rahayuningsih, 2008). Azwar (1995:37) mencontohkan bentuk sikap yang didasari emosi adalah prasangka.

Berbeda dengan Azwar, Garrett (dalam Abror, 1993:110) mengungkapkan ada dua faktor utama yang menentukan pembentukan dan perubahan sikap yaitu faktor psikologis dan faktor kultural. Faktor psikologis seperti motivasi, emosi, kebutuhan, pemikiran, kekuasaan dan kepatuhan, kesemuanya merupakan faktor yang memainkan peranan dalam menimbulkan atau mengubah sikap seseorang; sedangkan faktor kultural atau kebudayaan seperti: status sosial, lingkungan keluarga dan pendidikan juga merupakan faktor yang berarti yang menentukan sikap manusia. Teori serupa diungkapkan oleh Chaiken (dalam Ramdhani, 2009), ia mengemukakan bahwa sikap terbentuk dan berubah dipengaruhi oleh lingkungan sosial yang memungkinkan masuknya berbagai proses subjektif dalam rangka memelihara hubungan interpersonal.

Dengan demikian variabel psikologis dan kultural selalu saling mempengaruhi dalam rangka menimbulkan, memelihara atau mengubah sikap.

REFERENSI

  • Abror, A, R. 1993. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Tiara Wacana
  • Ali, M. 2000. Sikap, Intensi, dan Perilaku Asimilasi Siswa (Perspektif Psikologi Sosial). Makalah. Pontianak: FKIP UNTAN.
  • Azwar, S. 1995. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Baron, R, A., & Byrne, D. 2004. Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga.
  • Calhoun, J, F., & Acocella, J, R. 1990. Psikologi tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan. Semarang: IKIP Semarang Press.
  • Ramdhani, N. 2009. Pembentukan dan Perubahan Sikap. Avaliable: http:/neila.staff.ugm.ac.id/wordpress/wp-content/uploads/2009/09/bab2a1- attitude.pdf.
  • Sears, D, O., Freedman, J, L., & Peplau, L, A. 1985. Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga.

Leave a Reply